Sabtu, 30 Desember 2017

Tentang Pemilik

                    Fitri Achriyanti. Nama kebanggaan yang diberikan oleh orang tuaku sejak 21 tahun lalu aku hadir di dunia ini. Simple memang, agak sedikit pasaran pula, tapi artinya sungguh bermakna untukku; "Wanita terakhir yang suci".
Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Dia adalah kakak yang hebat since he is a single fighter like his little sister now. Yes, he was divorced. :)  
                   Ayahku bekeja pada sebuah perusahaan elektronik di Yogyakarta, sedangkan Ibuku adalah seorang Ibu rumah tangga yang sangat multi talent. Betapa bangganya aku mempunyai orang tua seperti mereka. Keluargaku memang tak seperti keluarga dalam dongeng dan impian semua orang, tetapi aku sangat bangga dilahirkan dan dibesarkan di keluarga ini. Betapa tidak, kemandirianku sekarang tidak akan ku punyai jika tidak diajarkan oleh mereka bertiga. Keluargaku ini sangat kuat, kokoh, dan hebat pastinya. Terlalu banyak masa-masa dimana keluarga ini hampir saja tidak terselamatkan, tapi sekarang, berkat kuasaNya, segala sesuatu sudah menjadi lebih baik, How blessed I am, Alkhamdulillah.
                  Jadi, dari kecil saya tumbuh di lingkungan yang tidak terlalu religious. Keluarga besar saya adalah cerminan 'Indonesia banget' katanya. Dari Jawa, Sunda,Betawi,  Madura, Chinese, hingga Arab, semua ada dalam keluarga saya. Bahkan, kakak ibuku adalah seorang Kristen yang taat. Jadi dalam keluarga kami, perbedaan adalah hal yang sangat lumrah, nilai-nilai toleransi sudah tertanam dalam diri kami para cucu dari Mbah Sukarno. Ketika hari Natal tiba, para umat Islam selalu memperdebatkan boleh tidaknya mengucapkan selamat pada orang Nasrani, jika dikeluarga kami, hari natal adalah menjadi hari kumpul keluarga kedua setelah Idul Fitri. Duh, indahnya kebersamaan! ;)
                 Menjadi cucu perempuan terakhir kedua yang belum menikah di keluarga ini memang sedikit berat. Apalagi, kisah percintaanku tidak pernah aku umbar di keluarga, bahkan ke Ibuku sendiri. Daridulu selalu berpikir bahwa "Belum waktunya sih cerita soal pacar, besok aja kalo udah jelas mau nikah baru diceritakan.", dan sampai hampir menginjak umur 21 tahun, belum juga pernah ngenalin cowok ke keluarga. Entah, rasanya masih belum pantas karena mungkin masih berstatus jadi mahasiswa tingkat akhir, mungkin kalau sudah lulus dan punya kerjaan tetap, barulah berani membawa 'gandengan' untuk dikenalkan di keluarga besar. Karena kebetulan juga gak punya pacar (lebih tepatnya memutuskan untuk gak berpacaran lagi) sampai sekarang, jadi kalau ada yang nanya "Fitri udah punya pacar?" Selalu jawabannya, "Hehe, belum." 
Sedih sih kadang, tapi ya sudahlah. Melihat sepupu-sepupu yang lebih muda sudah berpacaran bahkan bisa awet, dan melihat diri sendiri yang belum bisa berkomitmen sama orang jadi miris. Entah, kadang juga bingung, mau cari yang gimana lagi sih? Cari yang sesempurna apa? Apa iya gak ada yang bisa bikin jatuh cinta? Hmm pertanyaan pelik setiap ditanya soal love-life. Apalagi pas ditanya soal nikah, ya karena kebanyakan Mbak-mbak sepupu pada nikah di umur 22an, saya semakin didoktrin untuk menikah muda, Padahal calonnya belum ada. Hmm.
Sebenarnya alasan mereka buat menyuruh nikah muda bukanlah apa-apa, hanya saja mereka ingin menyaksikan pernikahan saya karena usia mereka sudah tidak muda lagi, mumpung masih sehat katanya, jadi ingin melihat keponakan menikah dan bahagia.
And my heart always says that the reasons are so true, I don't know when will be the last time I see them. Something that I have to do is that doing anything as fast as I can, for simply fighting to make them happier.
Lalu karena sering ditanya soal itu, akhirnya lama-lamapun berpikir untuk segera menuntaskan apapun yang menjadi kewajiban. Mulai dari kuliah, harus lulus 4 tahun, lalu setelah itu kerja dan lanjut sekolah entah di luar ataupun di dalam negeri (hopefully in UK. aamiin) lalu bisa punya usaha Wedding Organizer sendiri, ya harapannya biar kalau nikah bisa hemat, jadi cita-citanya kalau belum punya WO sendiri belum mau nikah hehehe, 
Dan semua cita-cita itu harus terkejar selama 5 tahun kedepan, beharap rencanaku dan rencanaNya sejalan, tapi kalaupun tidak, I do believe that He has prepared something better even the best for me! 
                   Beralih dari kehidupan keluarga dan love-life yang begitu-gitu aja, sekarang aku mau menceritakan tentang academic life selama beberapa tahun belakangan ini. 
Tahun 2014, dimana aku resmi menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas negeri di kota Surakarta, Jawa Tengah. Tidak pernah terpikir akan hidup di kota yang basic nya gak ada saudara sama sekali disitu. Dulu, cita-citaku hanya ingin kuliah di Surabaya, the reason is because I have so many relatives there. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain, Ibuku tidak setuju dan menyuruh aku memilih Solo sebagai kota untuk merantau. Finally, masuklah aku ke program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Ya, Pendidikan, Padahal daridulu gak pernah pengen jadi guru, tapi Ibuku sangat mendukung profesi itu. Ya waktu itu mikirnya kan ridha orang tua itu ridha Allah, jalanin aja dulu, toh aku juga lumayan suka sama Bahasa asing. 
Singkat cerita, di bulan pertama kuliah, belum merasa 'krasan'. Do you know why? Banyak sekali alasannya. Mulai dari lingkungan, orangnya beda semua, belum ada yang kenal waktu itu, untung ada satu orang yang dari awal masuk udah ngajakin berteman. Namanya Amanda. Alasan kedua adalah mata kuliahnya. Dulu bener-bener shocked ketika tau bahasa pengantar perkuliahannya pake English semua. Ya Tuhan, rasanya bener-bener salah jurusan deh dulu tuh. :') 
Belum lagi mata kuliah skills yang benr-bener menguras hati dan pikiran, terutama Speaking. Dulu paling bermasalah, lebih tepatnya takut, kalau mata kuliah Speaking, dikarenakan speaking aku dulu sangatlah buruk. Ya gimana, waktu SMA lebih belajar Grammar sama Writing sih, jadi skills yang lain gak terlalu mastering. Hiks.
Dulu dosen Speaking 1 aku adalah The Master of Speaking nya English Education Department of My University, dan Alhamdulillah beliau sangat baik dan menghargai setiap proses mahasiswanya. Jadi semacam tau kalau aku dulu punya anxiety yang tinggi untuk speak up, yah jadilah setiap kesempatan disuruh ngomong terus in English. Dan alhamdulillah sampai sekarang agak sedikit lancar.
Semeste pertama dilewati dengan ala kadarnya, ya biar kata IP gak Cumlaude, udah dapet IP lebih dari 3 dulu sudah bersyukur dengan sangat. Ditambah lagi ada tragedi broke up yang sedikit banyak ngaruh secara psychological condition. 
Lalu semester-semester berikutnya dijalani  dengan lebih baik, jadi sedikit tau 'rules' kuliah di EED itu seperti apa, IP sedikit demi sedikit mulai membaik, dan lalu mulai kenal dunia organisasi. Ya, organisasi.
Di semester ke dua sampai empat atau lima kalau ga salah, mulai jadi penanggung jawab acara, jadi ketua divisi juga pernah, tapi akhirnya resign sih. Hehe
Ikut organisasi juga capek ternyata, sampai pada saat sudah lelah dan ingin berhenti. Tepat pada semester 6 kemarin, berhenti di organisasi. Masih dalam kepengurusan, cuman tidak seaktif dulu.
Dan, Alkhamdulillah, di semester 6 pula, berhasil lolos seleksi Student Exchange  se ASEAN. Jadi itu program Ministry of Education dari ASEAN, lalu ada program pertukaran pelajar, jadi ngajar gitu di luar negeri, kebetulan assigned di Thailand, ya tau sendiri kan perjuangannya kayak apa. hehe
              Dan sekarang, sudah masuk semester 7, hampir semester 8. Time flies, for sure. 
Rasanya baru kemarin daftar kuliah, baru kemarin dianter keluarga buat pindahan ke kost, baru kemarin kenalan dengan teman-teman EED, baru kemarin masuk ESA, baru kemarin gabung di UKM Paduan suara fakultas, dan baru kemarin PPL di luar negeri, Sebentar lagi sudah semester akhir, semester yang ditunggu-tunggu. Tahun dimana semua resolusi dan harapan sudah tertata dan tersusun rapi. Tidak ada harapan yang lebih nyata selain bisa lulus tepat waktu di bulan Maret dan wisuda di bulan Juni. Terlebih lagi jika ada seseorang yang mendampingi ketika wisuda nanti selain orang tua pastinya. Hehe
             Demikianlah sepenggal kisah dari pemilik blog yang tidak aktif ini. Semoga bermanfaat dan bisa jadi teman diwaktu senggang untuk para pembaca.


With Love,
Fitri Achriyanti. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar